Sunday, January 17, 2016

Tes Ajah

Pendekatan penyuluhan dengan cara memberikan pelayanan, nasehat dan pemecahan masalah pelaku utama dan pelaku usaha , dipandang perlu sistem kerja LAKU ditetapkan kembali dengan modifikasi sesuai kondisi dan kebijaksanaan yang ada. Beberapa aspek positif sistim kerja LAKU diantaranya yaitu ;

1 ) penyuluh mempunyai rencana kerja dalam setahun,

2) penyuluh mengunjungi pelaku utama dan pelaku usaha secara teratur, terarah dan berkelanjutan,

3) penyuluhan dilaksanakan melalui pendekatan kelompok,

4) penyuluh cepat mengetahui masalah yang ada ditingkat pelaku utama dan pelaku usaha dan cepat memecahkannya,

5) penyuluh secara teratur mendapat tambahan pengetahuan / kecakapan, sikap dan keterampilan, dan

6) penyelenggaraan penyuluhan mendapatkan supervisi dan pengawasan yang teratur.

Penerapan sistim kerja LAKU diharapkan dapat meningkatkan motivasi penyuluh dalam melaksanakan fungsinya sebagai pendamping dan pembimbing pelaku utama dan pelaku usaha ,serta menggairahkan pelaku utama dan pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan usaha yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatannya.

Model pendekatan ""Latihan dan Kunjungan"" dikembangkan dengan maksud untuk lebih mengefektifkan kegiatan penyuluhan pertanian di banyak Negara.

1. Tujuan penyuluhan pertanian. Melalui model pendekatan ini lebih diarahkan kepada upaya peningkatan produksi dan pendapatan petani secara individual. Jika setiap petani dapat meningkatkan produksi dan pendapatannya, niscaya produksi dan pendapatan nasional maupun kesejahteraan masyarakat pedesaan akan dapat dlcapai pula.

Sasaran penyuluhan pertanian. Berbeda dengan model pendekatan konvensional. sasaran penyuluhan pertanian terbatas pada setiap keluarga petani yang berada dalam wilayah kerja penyuluh lapangan yang bersangkutan, yang dikelompokkan dalam kelompok-kelompok tani yang dipimpin oleh seorang petani-maju yang jumlahnya sebanyak 10% dari jumlah petani yang ada di desanya. Karena itu, setiap penyuluh diinstruksikan untuk menunjuk kontak-tani yang bertindak sebagai ketua dan perwakilan para petani-maju di desanya.

2. Pengorganisasian dan cakupannya. Melalui pendekatan Latihan dan Kunjungan. seluruh petani diorganisasikan dalam kelompok-kelompok tani yang dilayani oleh penyuluh lapangan. Rasio penyuluh dan petani. rata-rata 1: 800 (300 -1200 orang). Petani yang berjumlah 800 orang itu, dikelompokkan dalam 8 kelompok yang masing masing akan dikunjungi secara teratur dan berkelanjutan oleh penyuluhnya setiap 2 minggu/sekali. *)

3. Pendekat yangdilakukan. Dalam model ini, kegiatan penyuluhan dilakukan dengan mengutamakan pada pendekatan kunjungan ke lahan usahatani secara berkelompok. Di samping 1tu, Juga dllaksanaka kegiatan-kegiatan latihan bagi Kontak-tani/Tani-maju, atau pertemuan-Pertemuan kelompok di luar lahan usahatani mereka.
4. Peranpenyuluh. Dengan kunjungan ke kelompok –kelompok tani untuk membantu pelaku utama dalam kegiatan usahataninya melalui : penyuluhan teknologi yang murah. resikonya kecil. Demikian juga membantu dalam pemecahan masalah yang dihadapi petaninya, pemberian rekomendasi teknis untuk pelaksanaan usahatani dan merancang demonstrasi usahatani.

5. Pada pendekatan ini, peran penyuluh sudah tegas, yaitu untuk mengunjungi kelompok-kelompok tani guna membantu mereka untuk menunjang kegiatan usahataninya melalui : penyuluhan teknologi yang murah dengan resiko kecil, pemecahan masalah yang dihadapi petaninya, pemberia rekomendasi teknis unt'ik pelaksanaan usahatani dan merancang demonstrasi usahatani.

Untuk keperluan tersebut, setiap 2 minggu sekali diselenggarakan latthan secara teratur bagi para penyuluh lapangan.

6. Kritik terhadap pendekatan pendekatan latihan dan kunjungan
Meskipun pendekatan Latihan dan Kunjungan ini memang terbukti memberikan keberhasilan untuk menunjang kegiatan usahatani dalam rangka peningkatan produksi dan pendapatan petani. tetapi banyak kritlk yang dilontarkan.

Kelemahan Pelaksanaan Sistem Laku antara lain:
Tidak semua pelaku yang terlibat dalam sistem LAKU bekerja untuk kebutuhan sasaran penyuluhan , peneliti lebih tertarik dengan penelitian non aplikatif.

Publikasi hasil penelitian cenderung pada promosi, bukan ilmu terapan yang dibutuhkan
Penyuluh dianggap rendah karena bekerjasama dengan pelaku utama dan pelaku usaha.
Penyusunan program cenderung dikendalikan oleh pusat.
Cenderung top down dalam proses pelaksanaannya
Kesulitan bagi daerah yang agroekologis dan sosioekonominya beragam
Tidak efektif untuk daerah terpencil.
Perlu biaya cukup tinggi untuk transportasi dan pelatihan yang teratur.
Asumsi pelaku utama dan pelaku usaha bersedia menjadi agen penyuluhan secara cuma-cuma tidak sepenuhnya bisa.
Penyunting: Yulia Tri S
Email: yulia.trisedyowati@yahoo.co.id
Sumber: Totok Mardikanto,1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian, acuan untuk Pelajar, Mahasiswa, Dosen, Penyuluh, Pekerkja sosil, penentu kebijakan, dan peminat Ilmu /kegiatan Penyuluhan Pembangunan. Unversitas sebelas Maret.Surakarta.

No comments:

Post a Comment